MALANG (Lentera) - Tujuh peneliti Universitas Brawijaya (UB) masuk dalam pemeringkatan ilmuwan terbaik dunia tahun 2026, jumlah tersebut meningkat dari 5 peneliti pada 2025 atau bertambah 40 persen dalam setahun.
Ketua Kelompok Jabatan Fungsional Data Pemeringkatan Berbasis Web UB, Mahdin Rohmatillah, S.T., M.Sc., M.T., Ph.D. mengatakan peningkatan tersebut tidak hanya terlihat dari jumlah peneliti, tetapi juga keragaman bidang keilmuan yang terwakili.
"Keterwakilan bidang keilmuan juga meluas dari tiga subbidang pada 2025 menjadi lima subbidang pada 2026," ujar Mahdin, Rabu (14/10/2026).
Tujuh ilmuwan UB yang masuk dalam daftar tersebut, yakni dr. Jonny Karunia Fajar, Sp.PD.; Ir. Nurul Huda, M.Sc., Ph.D.; Raden Adharyan Islamy, S.Pi., M.P.; Dr. dr. Nur Samsu, Sp.PD., KGH.; Prof. Dr. Ir. Femiana Gapsari Madhi Fitri, S.T., M.T.; Prof. Sujarwoto, S.IP., M.Si., Ph.D.; serta Danung Nur Adli, S.Pt., M.Sc., M.Pt.
Kelima subbidang yang terwakili meliputi General & Internal Medicine, Food Science, Fisheries, Materials, serta Dairy & Animal Science. Jonny Karunia Fajar, Nur Samsu, dan Sujarwoto tercatat pada subbidang General & Internal Medicine. Nurul Huda masuk dalam Food Science, sedangkan Femiana Gapsari Madhi Fitri pada Materials.
Adapun 2 nama yang melengkapi daftar UB pada 2026 ialah Raden Adharyan Islamy dari subbidang Fisheries dan Danung Nur Adli dari Dairy & Animal Science. Keduanya menambah keterwakilan UB dalam pemeringkatan tahun ini dibandingkan daftar tahun sebelumnya.
Dari tujuh peneliti tersebut, Jonny Karunia Fajar menempati posisi teratas di lingkungan UB dengan peringkat dunia ke-77.639.
Perbaikan peringkat juga dicatatkan Femiana Gapsari Madhi Fitri, yang naik dari posisi ke-273.515 pada 2025 menjadi ke-161.679 pada 2026. Sementara itu, Nur Samsu memperbaiki posisinya dari peringkat dunia ke-139.228 menjadi ke-116.295.
Di luar capaian pemeringkatan, penelitian para ilmuwan UB juga mencakup pengembangan solusi di bidang perikanan dan peternakan. Salah satunya dilakukan Raden Adharyan Islamy, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB, yang berfokus pada nutrisi ikan dan lingkungan perairan.
Penelitiannya mencakup pemanfaatan bahan baku alternatif dan teknologi fermentasi untuk meningkatkan kualitas nutrisi serta kecernaan pakan. Ia juga mengkaji pengelolaan kualitas air dan lingkungan budidaya, termasuk potensi tanaman introduksi, seperti tanaman invasif, sebagai bahan alternatif pakan ikan.
Bagi Adharyan, pemeringkatan bukanlah tujuan utama dalam menjalankan penelitian. Ia memandang publikasi ilmiah sebagai bentuk pertanggungjawaban atas hasil penelitian sekaligus sarana untuk memperluas pemanfaatannya.
"Harapan saya ke depan penelitian-penelitian tersebut tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memiliki manfaat praktis dan dapat dikembangkan menjadi inovasi yang relevan untuk budidaya ikan," ujar Adharyan.
Sementara itu, Danung Nur Adli, dosen Fakultas Animal Science and Technology (FAST) UB, mengembangkan penelitian di bidang peternakan dengan memanfaatkan metode meta-analysis, machine learning, deep learning, dan explainable artificial intelligence (XAI).
Dalam penelitiannya, Danung menggunakan perangkat lunak RStudio dan Python untuk menganalisis temuan dari penelitian-penelitian yang telah ada. Pengembangan risetnya juga menjangkau penerapan teknologi di masyarakat, salah satunya melalui pengembangan sensor suhu dan kelembapan bagi masyarakat di Bojonegoro.
Atas capaian tersebut, Danung mengapresiasi dukungan UB terhadap pengembangan riset yang dilakukannya.
"Saya apresiasi, terima kasih, karena salah satu saya bisa seperti ini karena disupport oleh UB," ujar Danung.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)