17 October 2026

Get In Touch

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar, BI akan Terus Intervensi

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). (foto:ist/dok.Ant))
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). (foto:ist/dok.Ant))

JAKARTA (Lentera) - Bank Indonesia (BI) menyebut akan terus hadir di pasar keuangan, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya seiring tekanan pada pagi ini menyentuh Rp18.000 per dolar AS di tengah sentimen risk-off (menghindari risiko) global.

Di samping itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan BI juga memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. 

"Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ujar Erwin di Jakarta melansir Antara, Jumat (16/10/2026).

Erwin menyampaikan, bahwa arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan menekan pasar keuangan domestik.

Menurutnya, pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,28 persen secara quarter-to-date (QTD).

Cadangan devisa juga tetap terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.

“Bank Indonesia juga menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang, serta terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya,” paparnya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat bergerak melemah 83 poin​ atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.

Dari dalam negeri, terjadi gejolak di pasar saham Indonesia pada pagi ini pasca-pengumuman MSCI. 

Pada Kamis (15/10/2026) waktu setempat, MSCI mengumumkan untuk membuka konsultasi dengan pelaku pasar, mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) ke Standalone Market (pasar mandiri).

MSCI akan mengumumkan, keputusan final paling lambat akhir Juni 2027 dan dapat memberikan pembaruan sementara mengenai masukan dari pelaku pasar selama masa konsultasi, dikutip dari pengumuman MSCI yang diterima di Jakarta, Jumat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi dibuka melemah 469,86 poin atau 8,01 persen ke posisi 5.393,92 atau mengalami trading halt. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 49,14 poin atau 8,33 persen ke posisi 540,95.

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.