Wamenko Pangan Tinjau Penanganan Karhutla di Palangka Raya, Total Area Terbakar 680 Hektare
PALANGKA RAYA (Lentera) - Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, pada Jumat (30/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, selain melakukan peninjauan lapangan, Wamenko juga menghadiri Rapat Koordinasi Pemantauan dan Evaluasi Penanggulangan Karhutla dalam Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) Provinsi Kalimantan Tengah di Jalan Talawang, Palangka Raya.
"Sebanyak 175 regu dikerahkan untuk menangani karhutla di sejumlah titik, personel gabungan bekerja secara terpadu dengan mengoptimalkan sumber daya dan peralatan dari masing-masing instansi," papar Hanif, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, jika penanganan karhutla di Kota Palangka Raya difokuskan di kawasan Jalan Talawang dan Jalan Buluh Merindu, dengan dukungan dari Kodam dan Polda.
Upaya pemadaman dan pengendalian mencakup area seluas 360 hektare di Jalan Talawang, dan 320 hektare di Jalan Buluh Merindu yang berlokasi di kawasan perkotaan.
Selain di Palangka Raya, penanganan karhutla diperluas ke wilayah Kabupaten Pulang Pisau. Seluruh peralatan, khususnya mesin pompa air, diminta untuk dioptimalkan guna mendukung proses pemadaman dan memastikan ketersediaan sarana dii lapangan.
"Dalam pelaksanaannya, penting adanya kesiapan peralatan dan pembagian tugas personel secara tepat, selain itu setiap regu harus ditempatkan sesuai titik penanganan agar upaya pemadaman berjalan terarah dan efektif," jelasnya.
Sebelumnya, dilakukan pengecekan terhadap peralatan yang ada, kemudian membagi regu kerja sesuai dengan titik-titik penanganan. Seluruh tenaga di lapangan harus dioptimalkan agar penanganan dapat dilakukan secara maksimal.
Hanif menambahkan, terkait kondisi cuaca, berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan diperkirakan mulai meningkat pada akhir November 2026. Sementara itu, upaya modifikasi cuaca telah dilakukan untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Namun demikian, ia menegaskan, penanganan karhutla tidak bisa hanya bergantung pada cuaca. Kesiapan personel, sarana dan prasarana, serta koordinasi lintas sektor, tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla.
“Harapannya, penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, khususnya di Palangka Raya dan Pulang Pisau, berjalan secara optimal sehingga dampak kebakaran terhadap masyarakat dan lingkungan dapat diminimalisir,” pungkasnya.
Reporter: Novita/Editor: Ais





.jpg)